Cita-Cita Pejuang Islam: Dari Abu Ayyub Hingga Pembebas Al-Quds
One Day One Juz Untuk Negeri (OUN)
One Day One Juz untuk Negeri adalah Yayasan Pengelola ZISWAF
yang terlahir dari inisiatif Komunitas One Day One Juz
Home/Oase Dakwah/Cita-Cita Pejuang Islam: Dari Abu Ayyub Hingga Pembebas Al-Quds
Sahabat, siapa yang tidak kenal Abu Ayyub Al-Anshari r.a? Nama aslinya adalah Khalid bin Zaid. Rumah beliau dipilih Allah SWT sebagai tempat tinggal sementara Rasulullah SAW setelah hijrah dari Makkah ke Madinah. Rasulullah SAW tinggal di sana selama kurang lebih tujuh bulan.
Abu Ayyub r.a dikenal sebagai sahabat yang tidak pernah absen dalam peperangan bersama Rasulullah SAW. Bahkan di usia 80 tahun, ia masih bercita-cita menaklukkan Konstantinopel. Ia ikut dalam ekspedisi penaklukan tersebut, namun wafat dalam perjalanan. Cita-citanya itu baru terwujud sekitar delapan abad kemudian oleh Muhammad Al-Fatih, yang terinspirasi dari kisah Abu Ayyub melalui gurunya, Syaikh Aaq Syamsuddin.
Kisah lain datang dari Najmuddin Ayyub, pemimpin Kastil di Tikrit, Irak. Ia rela menunda pernikahan demi mendapatkan istri yang memiliki visi besar: membesarkan anak yang kelak akan membebaskan Al-Quds. Suatu hari, ia mendengar seorang wanita muda berkata, “Aku ingin laki-laki yang bisa mengantarkanku ke surga dan melahirkan anak yang akan membebaskan Al-Quds.” Najmuddin langsung menyatakan kesediaannya untuk menikahinya. Dari pasangan ini lahirlah Salahuddin Al-Ayyubi.
Inilah teladan dari mereka yang hidup dengan cita-cita besar—bukan untuk kejayaan pribadi, tetapi demi kemuliaan Islam.
Kini, saat kita menyaksikan genosida dan penjajahan yang terus berlangsung atas rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsha yang berada dalam cengkeraman Zionis, apakah cukup hanya bersedih dan berdoa? Tidak. Butuh kesungguhan dalam perjuangan.
Zionis Israel mendirikan negara mereka dengan cita-cita yang diperjuangkan secara serius. Theodore Herzl menulis Der Judenstaat, menggagas Kongres Zionis pertama pada 1897, dan bahkan mencoba menyogok Sultan Abdul Hamid II. Upaya mereka tak hanya berupa ide, tetapi langkah nyata dan terstruktur.
Maka, mengapa kita tidak menulis cita-cita besar kita hari ini? Sebab jika kita lalai, maka cita-cita musuhlah yang akan menjadi kenyataan.
“Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan.” (HR Tirmidzi)
Untuk kisah lengkap dari Oase Dakwah diatas silahkan Akses link majalah kami di edisi berikut